Petugas Imigrasi pun heran | JET Goes to Malaysia Angkatan Perdana (part 1)

 Petualangan dimulai!


26 Oktober 2015
Briefing terakhir sebelum keberangkatan diberikan, ada satu siswa yang tidak masuk yaitu Ammar. Kata bundanya, Ammar sedang “galau” sejak semalam, mungkin karena untuk pertama kalinya bepergian jauh tidak bersama orang tuanya.

Beberapa anak memilih mabit (menginap) di sekolah, karena memang jadwal penerbangan pagi sekali, Jam 06.25 wib. Sehingga dini hari sudah harus berangkat dan lebih aman bagi beberapa anak menginap di sekolah bersama Tim Pendamping, Bu Yuni dan Bu Danis, agar tidak kesiangan. Ammar, ternyata datang ikut menginap. Selain itu ada Gibran, Prasetya, dan Athaya. Athaya datang paling awal untuk menginap diantar ibunya. Melihat tas yang dibawa Athaya, duh berat sekali itu...

27 Oktober 2015
Hari keberangkatan tiba, Jam 01.00 wib anak-anak yang menginap di sekolah sudah siap berangkat, tinggal menuju kendaraan untuk ke bandara. Tepat jam 01.45wib kami segera meluncur ke bandara Soekarno Hatta. Tapi ups, nyaris tertinggal nih, Kamera dan Handycam. Alhamdulillah diingatkan oleh Pak Isnan yang malam itu bersama Tim SM10 ikut menginap di sekolah. Setelah menunggu pak Isnan, maka kami langsung meluncur menuju bandara. Membelah keheningan dan kesunyian jalanan yang jika di siang hari selalu padat oleh aneka kendaraan.

Tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, sudah ada Ananditya (Adit) yang diantar Ayah dan Ibunya, serta Ayash bersama 3 gadis yang berangkat ke bandara diantar oleh Direktur Pendidikan Yayasan Jingga, Pak Ari Maryadi. Yang ternyata, mobil Pak Ari mengalami masalah sehingga mereka berempat “terpaksa” naik taksi dari Cawang menuju bandara.


Briefing @ Terminal 3 Soetta

Briefing pun dilakukan, untuk mengecek persiapan dan kelengkapan dokumen anak-anak. Terutama Paspor. Setelah itu anak-anak dibagikan boarding pass, name tag, dan snack untuk sarapan. Setelah berphoto-photo, salam kepada para pengantar, kami masuk menuju ruang check-in. Di ruang check-in, anak-anak diberikan kesempatan untuk ke toilet. Saat Briefing, anak-anak diberikan pesan untuk tidak sendirian jika ingin ke toilet dan harus meminta izin kepada tim pendamping. Karena memang kami sudah melakukan web check-in dan tanpa bagasi, setelah itu kami langsung mencari Musholla untuk sholat shubuh. Usai Sholat Shubuh, kami bergegas menuju Boarding Room, selagi masih sepi. Melihat tas Athaya yang sangat berat, akhirnya Pak Sahid memutuskan untuk bertukar tas dengan Athaya. Ternyata memang berat.

Alhamdulillah, tidak ada kendala berarti saat melewati bagian imigrasi. Sempat ada obrolan singkat antara petugas imigrasi dengan Pak Sahid yang meski pertama kali melewati imigrasi tapi tetap menunggu anak-anak,
I  : “Mau kemana bawa rombongan anak-anak?”
S : “Ke Kuala Lumpur, pak.”
I  : “Ada suratnya?”
S : “Ada, pak.”
I  : “Dalam rangka apa ke sana?”
S : “Belajar, pak. Studi wisata gitulah.”
I  : “Apa yang dipelajari?” (sambil mengernyitkan dahi dan keheranan)
S : “Banyak, pak.” (sambil tersenyum dan berlalu)

Namanya juga anak-anak sekolah alam, setelah tiba di ruang tunggu boarding dan mengisi energi mereka, maka selanjutnya adalah menyalurkan energi mereka. Tidak bisa berdiam saja atau sekadar duduk bahkan mungkin memejamkan mata karena sudah bangun sejak jam satu pagi. Luar biasa memang anak-anak ini. Sekitar jam 05.55wib terdengar panggilan untuk menuju pesawat. Karena masih ramai, Pak Sahid meminta anak-anak bersabar. Kami memilih jadi rombongan terakhir ke pesawat saja. Sebelum naik pesawat, tak lupa kami menyempatkan diri untuk berphoto di depan pesawat AA.

BoNis (Bobo Manis) di pesawat

Di pesawat, akhirnya anak-anak tidur dengan suksesnya. Mereka baru bangun saat pesawat akan mendarat. Kami tiba di KLIA 2, salah satu bandara untuk penerbangan murah terbesar yang pernah ada. Baca ulasan tentang KLIA 2 disini ya. KLIA 2 jelas sangat berbeda dengan Terminal 3 Bandara Soeta tempat kami berangkat tadi. Jika tadi di Soeta harus naik turun tangga a la pesawat low-cost, di KLIA 2 semua penerbangan harus memakai belalai (garbarata). Jadi tidak bakal kepanasan atau kehujanan. Kami keluar melalui garbarata dan melewati lorong panjang seperti lorong menuju Cerebo di X-Men.

Panjangnya lorong....

di dalam lorong panjang ketibaan

Keluar dari lorong, kami istirahat sejenak. Beberapa anak meminta izin ke toilet, setelah itu mengisi kembali botol-botol minum kami, dan mengisi energi (lagi) dengan snack bolen pisang yang dibagikan. 15 menit kemudian kami menuju ke terminal ketibaan (kedatangan) yang ternyata cukup jauh. Sebenarnya ada Layanan “Percuma Buggy Service”, tapi kami sudah terlanjur jalan. Ketika menemukan troli, kami pun memakainya. Lagi-lagi, inilah anak-anak sekolah alam. Troli yang berisi tas-tas itu bagi mereka layaknya permainan. Alhamdulillah, mereka mampu dikontrol jadi tidak sampai kena masalah karena kebut-kebutan dengan troli.

KLIA2 memang sangat kerennn, baik fasilitas maupun desainnya. Anak-anak sangat excited. Konsepnya yang berpadu dengan Mal membuat orang bisa jadikan bandara sebagai sekadar tempat untuk wisata, tidak perlu punya tiket atau mau pergi ke suatu tempat dengan pesawat. Beda jauh dengan bandara-bandara di Indonesia. Baca lebih lengkap tentang KLIA2 disini.

Alhamdulillah, proses melewati imigrasi di KLIA 2 juga lancar. Setelah itu kami langsung menuju ke meeting point dimana bu Febi dan bu Ana menunggu. Saat menuju keluar, kami menemukan counter salah satu operator seluler Malaysia, Maxis. Maka kami berniat untuk membelinya untuk keperluan komunikasi tim. Tapi ternyata anak-anak juga mau. Kami membeli sim card perdana plus paket all in (telepon, sms, internet) seharga RM 21. Saat sedang menunggu sim card terpasang, bu Febi dan bu Ana datang. Setelah semua handphone terpasang sim card Malaysia, kami pun bergegas menuju terminal bis. Ternyata bisnya masih 30 menit lagi. Sehingga beberapa anak memutuskan untuk mencari sarapan bersama bu Ana.

30 menit kemudian, kami menaiki bis yang akan membawa kami menuju Kuala Lumpur Sentral Station (KL Sentral). KL Sentral merupakan stasiun dan terminal terbesar di Asia Tenggara. KL Sentral dengan desain futuristik-holistik dimana stasiun berpadu dengan perkantoran, kondominiumhotel, dan mal. Lebih lengkapnya baca disini.

Tiba di KL Sentral, kami bergegas menuju ke area transit. Melihat banyak resto cepat saji, anak-anak mulai lapar. Tapi saat diminta melihat harganya, mereka mundur. Sambil menunggu bu Ana dan bu Yuni membeli tiket LRT menuju apartemen di Bukit Bintang, anak-anak mulai menemukan “mainan” menarik, Vending Machine Minuman! Selanjutnya selama 3 hari di Kuala Lumpur, Vending Machine jadi “toko” (kalau nggak mau dibilang mainan) favorit anak-anak untuk membeli minuman.

Lalu kami segera menuju ke platform (peron) LRT (light rail train) Kelana Jaya Line. Kami dibagikan token RapidKL yang berbentuk seperti tutup botol plastik gepeng. RapidKL adalah perusahaan yang mengatur transportasi umum terpadu (bis dan kereta) di Kuala Lumpur. Walau bentuknya sederhana seperti tutup botol, tapi berteknologi canggih. Di dalamnya menyimpan data tujuan kita dan kita tidak bisa berbuat “curang” karena datanya sesuai dengan harga yang kita bayarkan untuk tujuan tertentu.

KL Sentral sangat luas dan terdiri dari banyak bagian. Iyalah, terbesar di Asia Tenggara dan pusat segala transportasi umum di KL. Untuk menuju ke Platform LRT, kami harus naik melalui eskalator. Saat di eskalator, kita tidak boleh seenaknya berdiri seperti di Indonesia. Banyak sign system (papan info) meminta agar kita berdiri hanya di sebelah kiri untuk memberi jalan orang-orang yang ingin cepat dan terburu-buru.

Tiba di Platform, kami menunggu LRT datang. Nah, (lagi-lagi) kita harus tertib. Kita wajib berdiri dan berbaris di bagian yang sudah diberi tanda. Itu untuk memberi jalan terlebih dahulu bagi mereka yang akan turun. Setelah semua penumpang turun, baru kita naik. Tidak seperti di Jabodetabek ya, bukan hanya tidak memberi jalan untuk yang turun dulu, tapi orang-orang yang mau naik berebut agar bisa duluan naik agar bisa dapat tempat duduk. Duh, lagi-lagi tentang tempat duduk ini, kita harus mencontoh. Jika di angkutan umum di Jabodetabek orang-orang berebut tempat duduk, maka di KL tidak. Terutama di kursi-kursi prioritas. Walau banyak tempat duduk kosong, masyarakat disini lebih senang berdiri dan mempersilakan orang lain untuk duduk. Terutama untuk wajah-wajah lelah dengan beban berat para turis seperti kami ini. Hehehe.... Ya, pengalaman kami memang lebih sering ditawarkan tempat duduk saat di kereta maupun bis. Ohya, di LRT, KTM maupun Monorail juga terdapat gerbong khusus wanita. Tapi disini gerbongnya terletak di tengah rangkaian, bukan di ujung rangkaian.

Berbaris rapi menanti LRT tiba

Di dalam LRT, anak-anak takjub. Mereka semakin takjub saat, karena dapat di gerbong paling ujung, dan melihat tidak ada masinisnya! Jadilah mereka makin antusias jika naik LRT

Di dalam LRT, anak-anak takjub dengan teknologinya

Di perjalanan dari bandara menuju apartemen saja sudah begitu banyak hal yang bisa kami ambil hikmahnya. Bukan hal yang klise atau menghibur hati memang kalau sering kita dengar bahwa sebenarnya “Malaysia-lah yang dulu banyak belajar dari Indonesia yang sudah lebih dahulu maju pariwisata dan pendidikannya”. Sayangnya memang, kini justru kita yang banyak tertinggal dalam berbagai hal, tidak hanya dua hal itu.

Apalagi yang didapat oleh anak-anak hebat angkatan pertama JET ya...? Baca cerita yang lebih seru di bagian kedua! J

(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

JINGGA EDUTRIP (JET) Explore Singapore - Malaysia; 8 – 11 November 2016

Edutrip; Satu dari 1000 Jalan menuju Ridha-Nya

Jingga Edutrip (JET); Bukan perjalanan biasa...